Yosef Yudha Wijaya

Penataran Ikon

Penataran Ikon

Pengalaman menumpang kereta api Penataran Ikon yang digadang-gadang menjadi ikon baru kereta api kelas ekonomi.

Yosef Yudha Wijaya ·

Penataran Ikon

Seharusnya artikel ini muncul tiga minggu yang lalu, tetapi lebih baik sedikit terlambat ketimbang tidak menuliskannya. Pada 20 Januari 2008 saya berkesempatan mencicipi kereta api (KA) ekonomi Penataran dari Stasiun Surabaya Gubeng menuju Stasiun Malang dengan pemberangkatan pukul 08.10. KA ini digadang-gadang menjadi ikon KA ekonomi di PT Kereta Api (Persero) Daerah Operasi VIII. Artinya, KA ini berbeda dari KA kelas ekonomi lainnya: lebih bersih dan tidak ada penjual makanan/pengemis di kereta. Dengan kata lain, kenyamanan dan keamanan lebih bagi penumpang.

KA ini beroperasi perdana pada 20 Juli 2007 melayani rute Surabaya - Malang - Blitar. Awalnya KA tersebut berangkat dari Surabaya Gubeng pukul 07.00, tetapi kemudian dijadwal ulang ke pukul 08.10. Tarif tiketnya Rp 4.500, jauh lebih murah ketimbang tarif bus di rute sama.

KA ini, dipimpin lokomotif CC20101R (GE U18C), tiba terlambat semenit di Stasiun Surabaya Gubeng. Saya bergegas memasuki satu dari tujuh(?) kereta penumpang dan duduk di kursi kosong. Tiba-tiba saya melihat ada sesuatu yang tidak biasa di meja depan saya: serakan beling. Secara alamiah saya berdiri lagi dan melihat di kursi yang saya duduki juga terdapat beling.

Img

Tampaknya kaca jendela kereta yang saya tumpangi tertimpuk benda keras dari arah luar. Seseorang mungkin melempar batu ke arah kereta dan mengenai jendela, tindakan yang sungguh barbar, tak berpendidikan, dan nirtanggung jawab. Kaca jendela yang pecah sudah diganti dengan yang baru, sayang belingnya belum dibuang.

Selama perjalanan, sesuai dengan janji, tidak ada penjual makanan atau pengemis menaiki kereta. Para penjual makanan cenderung menawarkan dagangannya di luar kereta. Mereka juga harus bersaing dengan petugas KA yang menawarkan nasi rames, mi instan, teh, dan kopi.

Saya juga mencatat hal-hal menarik selama perjalanan. Tanpa sepengetahuan saya, seorang bapak yang duduk di samping memperhatikan kegiatan saya. "Dulu saya suka begitu, tapi saya juga mencatat ketinggian stasiun, bukan cuma namanya. Nanti sampeyan nemu sesuatu yang menarik," katanya. Ide bagus! Saya catat ketinggian tiap stasiun yang disinggahi.

Bapak itu benar, ada hal menarik yang saya temukan. Dari Surabaye ke Bangil, Pasuruan, KA melaju di lintasan yang lumayan datar. namun dari Bangil ke Singosari (39 kilometer), KA mendaki sekitar 478 meter! Di kawasan ini KA berjalan pelan seolah mengajak penumpang menikmati pemandangan gunung dan sawah terutama di antara Sukorejo - Lawang (selain itu ada juga pemandangan bencana lumpur panas di Porong)

Img Stasiun Tanggulangin

Akhirnya KA tiba di malang pukul 10.57. Saya berencana kembali ke Surabaya Gubeng dengan KA kelas bisnis Malang Ekspres yang berangkat pukul 12.55. Masih ada waktu 1 jam 58 menit, maka saya beli dulu tiket balik seharga Rp 15.000 lalu berjalan ke arah utara stasiun untuk cari makanan. Sementara itu Penataran Ikon melanjutkan perjalanan ke Blitar.

Img CC20101R di Stasiun Malang

Ringkasan perjalanan:

Stasiun Ketinggian (MDPL) Kedatangan Keberangkatan Catatan
Surabaya Gubeng 6 08:11 08:12 -
Wonokromo 7 08.19 08.21 -
Waru 5 08.28 08.30 -
Gedangan 4 08.35 08.36 -
Sidoarjo 4 08.46 08.49 Logawa, CC20167
Tanggulangin 6 08.57 09.09 X Penataran, CC20119
Porong 6 09.17 09.21 X Cantik Ekspres, BB30135
Bangil 9 09.33 09.36 -
Wonokerto 90 09.46 09.47 stopped for about 30 seconds
Sukorejo 239 10.00 10.00 stopped for less than a minute
Sengon 312 10.08 10.08 stopped for less than a minute
Lawang 481 10.24 10.29 X Penataran, BB30113
Singosari 487 10.41 10.42 X oil freight, CC20108
Blimbing 467 10.50 10.51 -
Malang 444 10.57 n/a -

Total: 2 jam 46 menit

Ketika saya kembali.ke stasiun, Malang Ekspres akan memasuki stasiun di jalur 1. Lokomotif yang digunakan adalah CC20336 (GE U20C). Setelah KA berhenti, lokomotif dilepaskan dari rangkaian, dilangsir ke jalur 2, dibawa ke arah utara melewati sinyal muka, dilangsir kembali ke jalur 1, lalu dirangkaikan kembali dengan Malang Ekspres.

Img

Img Saat proses langsir ini, saya memperhatikan seseorang menuliskan angka dengan kapur di badan kereta penumpang untuk membantu penumpang menempati kereta sesuai nomornya. Angka tersebut tidak hanya dituliskan di badan kereta Malang Ekspres, tetapi juga Matarmaja. Lumayan efektif ketimbang capek berulang-ulang meneriakkan nomor tiap kereta di rangkaian.

Img

Tepat pukul 12.55, Malang Ekspres berangkat ke Surabaya. Karena kereta paling belakang tidak ramai — hanya beberapa kursi ditempati — saya memilih berdiri di bordes dan menikmati pemandangan dari balik pintu belakang.

Ketika mendekati Stasiun Blimbing, KA melambat dan berjalan ke sepur belok karena akan bersilang dengan KA ekonomi Tawangalun dari Banyuwangi.

Img

Img Stasiun Blimbing

Img KA Tawangalun

Setelah Tawangalun berjalan langsung di Stasiun Blimbing, Malang Ekspres diberangkatkan kembali. Lalu sebelum memasuki Stasiun Singosari, KA kembali berhenti di sinyal masuk.

Img

KA kembali melanjutkan perjalanan, berhenti di Stasiun Lawang, lalu meluncur turun ke Stasiun Bangil, tempat saya selalu bertemu lokomotif diesel kecil D30162 buatan Krupp.

Img

Berikut foto-foto kondisi lintasan rel di Porong:

Img

Img

Img

Img

Akhirnya KA tiba di Surabaya. Namun sebelum memasuki Stasiun Surabaya Gubeng, KA sekali lagi berhenti karena petak rel didepannya diisi oleh Sancaka tujuan Yogyakarta.

Img

Ringkasan perjalanan:

Stasiun Ketinggian (MDPL) Kedatangan Keberangkatan Catatan
Malang 444 n/a 12.55 -
Blimbing 467 13.05 13.13 X Tawangalun, BB30408
Singosari 487 n/a n/a stopped at home signal
Lawang 481 13.34 13.36 -
Bangil 9 14.12 14.14 -
Sidoarjo 4 14.35 14.37 -
Wonokromo 7 14.54 14.56 -
Surabaya Gubeng 6 15.07 n/a -

Total: 2 jam 12 menit

Tautan luar:

Terbikin dengan penuh 🤔 oleh Yosef Yudha Wijaya